Amalkan Sikap Hidup yang Pantas di Hadapan Allah

Iklan Semua Halaman

Betang Raya Post - Suluh Perjuangan Rakyat Kalimantan

Amalkan Sikap Hidup yang Pantas di Hadapan Allah

Renungan: Minggu Biasa XXXIV (Hari Raya Tuhan kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam)
Bacaan: Yeh. 34:11-12.15-17; 1Kor. 15:20-26a; Mat. 25:31-46

SITU MEMILIH MENJADI DOMBA ATAU MENJADI KAMBING???
(Oleh: P. Ignatius F. Thomas, Pr)

Bapak, ibu, saudara/i terkasih... Dalam ilmu filsafat manusia, dikatakan bahwa kita manusia adalah makhluk sosial. Hal ini dikarenakan realitas "Ada"nya kita di dunia ini tidak dalam KESENDIRIAN dan tidak terpisahkan dari "Ada-ada" yang lain. Melainkan berelasi dan berinteraksi dengan orang lain sebagai "Ada-ada" yang lain. Relasi dan interaksi tersebut mencetuskan suatu nilai kebersamaan. Kebersamaan hidup dalam dimensi sosialitas.
Oleh karena kita adalah makhluk sosial, maka sudah pasti kita hidup dalam dunia sosial, dalam jalinan relasi bersama orang lain. Sebab tidak mungkin kita mengalienasi diri (mengasingkan diri) dari orang-orang di sekitar kita. Kita membutuhkan orang lain. Demikian pula sebaliknya.

Bapak, ibu, saudara/i terkasih...Di dalam menjalani hidup bersama dengan sesama, kita sering ditantang untuk menunjukkan sebuah sikap hidup yang mampu menerima semua orang. Kita ditantang untuk merangkul siapa saja, apapun status dan latar belakang hidup mereka. Entah dia kaya, entah dia miskin. Entah dia hebat, entah dia biasa-biasa saja. Namun fakta yang terjadi adalah sebagai makhluk sosial, justru tidak sedikit di antara kita yang masih tergoda untuk menjaga gengsi, berelasi dan bergaul dengan sesama dengan memandang status, latar belakang, profesi, dan sebagainya. Dengan kata lain enggan untuk menerima dan merangkul sesama, melainkan semacam memilih-milih dalam bergaul, dalam bersesama dengan sesama.

Bacaan-bacaan Kitab Suci yang ditampilkan kepada kita dalam perayaan Hari Raya Tuhan kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam kemarin, membantu kita sebagai umat beriman untuk menghayati dan mengamalkan suatu sikap hidup yang pantas di hadapan Allah dan sesama.

Allah telah mengasihi kita. Ia mengasihi kita apapun keadaan kita. Ia juga telah menggembalakan kita dengan penuh kasih setia. Bahkan ketika kita tersesat, sebagai gembala Ia mencari dan mengumpulkannya kembali. Gembala itu adalah Yesus Kristus, Sang Raja Semesta Alam. Yesus Kristus, Sang Raja yang merajai hidup kita.

Melalui ketiga perikop bacaan Kitab Suci di atas, kita diingatkan kembali akan Allah yang merajai hidup kita dan sekaligus menggembalakan kita semua kawanan domba Nya. Bila kita mendengarkan dan melaksanakan ajaran Nya, kita dikatakan sebagai kawanan domba. Bila kita mengasihi sesama bahkan mengasihi dan merangkul yang dipandang hina sekalipun, sesungguhnya kita adalah domba-domba yang mengasihi Dia.

Sebaliknya bila dalam hidup ini kita tidak mendengarkan dan mengamalkan apa yang Ia ajarkan kepada kita, oleh sabda Tuhan kita dikatakan sebagai kawanan kambing. Bila kita tidak mengasihi sesama terutama mengasihi dan juga merangkul yang dipandang hina, berarti kita juga tidak mengasihi Dia. Maka jelaslah kita sebagai kawanan yang dalam perikop Kitab Suci terutama bacaan pertama dan bacaan Injil disebut sebagai kawanan kambing. Sebagai umat beriman dan sebagai pribadi yang adalah makhluk sosial, anda atau situ pilih yang mana menjadi domba atau menjadi kambing? Memilih dikumpulkan ke dalam KerajaanNya atau ke dalam api yang menyiksa? Seturut sabda Tuhan, jadilah DOMBA dan jangan mau menjadi KAMBING. Atau SITU masih nekad mau menjadi KAMBING???Semoga kita semua setia memilih menjadi domba-dombaNya, sehingga Dia tetap merajai hidup kita baik di dunia maupun di surga. Selamat merayakan Hari Raya Tuhan kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam. Tuhan memberkati kita semua.

Redaksi Betang Raya Post Firmus