Berdoa dan Bersyukur

Iklan Semua Halaman

Betang Raya Post - Suluh Perjuangan Rakyat Kalimantan

Berdoa dan Bersyukur

Renungan: Injil Mat. 25:14-30
MENGELOLA DAN MENGEMBANGKAN PEMBERIAN TUHAN
(Oleh: P. Ignatius F. Thomas, Pr)

SANGGAU, BRP - Bapak, ibu, saudara/i terkasih...Pada Minggu yang lalu, melalui perumpamaan tentang gadis-gadis yang bijaksana dan gadis-gadis yang bodoh, kita telah diajak untuk mengembangkan sikap kebajikan dan kebijaksanaan hidup, seperti halnya para gadis yang bijaksana, bukan seperti para gadis yang bodoh. Melalui para gadis yang bijaksana ini, kita diajak untuk secara terus-menerus mengusahakan kebijaksanaan dalam hidup kita.
Pada Minggu kemarin, menjelang berakhirnya masa tahun liturgi, tahun A, bacaan Injil kembali menampilkan kepada kita, sebuah perumpamaan yang tak kalah pentingnya untuk kita renungkan bersama. Perumpamaan yang ditampilkan kepada kita adalah perumpamaan tentang talenta.
Dari perumpamaan tersebut, kita diingatkan, kita disadarkan, bahwa Tuhan menganugerahkan talenta, bakat, kharisma, kemampuan, dan kecakapan kepada setiap orang, kepada kita secara berbeda-beda. Demikian pula perihal jumlahnya. Injil mengatakan kepada kita, ada yang diberi lima talenta, ada yang dua talenta, dan ada yang satu talenta saja. Oleh karena setiap orang dianugerahi talenta, bakat, kharisma, kemampuan, dan kecakapan-kecakapan yang berbeda, demikian pula dengan jumlahnya, maka tidak ada alasan bagi kita untuk bersikap iri kepada mereka, kepada siapa saja yang memiliki talenta, bakat, kharisma, kemampuan, dan kecakapan-kecakapan tertentu yang lebih dari yang kita miliki. Ada yang diberikan kecakapan dalam hal mengajar, ada yang pandai menyanyi, ada yang pandai berbisnis, ada yang pandai bermain musik, ada yang punya kharisma kepemimpinan, ada yang diberikan kemampuan untuk merangkul semua orang dan sebagainya.
Terhadap kecakapan-kecakapan mereka tersebut, kita tidak boleh iri, apalagi sampai mematikan keinginan mereka untuk berkembang. Sebaliknya, kita harus bersyukur dan sekaligus memberikan dukungan atas kecakapan-kecakapan tersebut. Mengapa kita tidak boleh iri? Karena Tuhan telah menganugerahkannya, menurut kesanggupan kita masing-masing. Bacaan Injil secara terang benderang mengatakan kepada kita, bahwa Tuhan menganugerahkan talenta, bakat, kharisma, kemampuan, dan kecakapan-kecakapan tertentu, menurut kesanggupan kita masing-masing.
Di samping itu melalui bacaan Injil, kita diingatkan bahwa tidak ada di antara kita yang tidak dibekali oleh Tuhan talenta, bakat, kharisma, kemampuan, dan kecakapan-kecakapan tertentu. Sekurang-kurangnya dibekali atau dianugerahi satu talenta, apapun bentuk dan modelnya. Tugas kita adalah semata-mata mengelola dan mengembangkannya, seperti halnya orang yang diberikan lima talenta dan dua talenta. Kedua orang tersebut dengan bersegera mengelola dan mengembangkan apa yang telah dipercayakan kepada mereka. Upaya keduanya tidak sia-sia, sebab keduanya memperoleh hasil yang berlipat ganda.
Bapak, ibu, saudara/i terkasih... Melalui perumpamaan tentang talenta dalam perikop Injil ini, kita juga diajak oleh Tuhan untuk semacam berhitung, untuk semacam berkalkulasi, atau dalam bahasa daerah kita semacam "bereken". Selama ini Tuhan telah memberi kita begitu banyak anugerah dan kesempatan. Lantas, apakah semuanya itu telah kita kembangkan? Apakah semuanya itu telah kita kelola dengan baik? Ataukah kita sia-siakan begitu saja? Apakah kita kuburkan seperti orang yang menerima satu talenta dalam perikop Injil? Bagi Tuhan, persoalannya bukan pada banyak atau sedikit talenta yang diberikanNya, tetapi bagaimana kita yang menerima talenta, bakat, kharisma, kemampuan, dan kecakapan-kecakapan tersebut mengelola dan mengembangkannya. Diberi banyak tetapi tidak dikembangkan dan dikelola dengan baik ya percuma juga. Sebaliknya, meskipun diberi sedikit tetapi dikembangkan dengan luar biasa dan dikelola dengan baik, maka pastilah akan menghasilkan buah yang berlimpah-limpah baik untuk diri sendiri maupun untuk sesama. Usaha keras kita dalam mengelola dan mengembangkan pemberian Tuhan tersebut dapat menjadi nilai plus di mata Tuhan. Bila kita sungguh-sungguh berusaha keras mengelola dan mengembangkannya, Tuhan tidak hanya memuji kita, melainkan juga akan memberikan berkat-berkat lain yang kadang jauh di luar pikiran kita.
Bapak, ibu, saudara/i terkasih... Tuhan telah memberikan talenta, bakat, kharisma, kemampuan, dan kecakapan-kecakapan kepada kita dengan cara Tuhan sendiri. Oleh karena itu, tugas kita selanjutnya adalah mengelola dan mengembangkannya, serta memanfaatkannya sebaik mungkin agar sungguh-sungguh berguna bagi sesama dan juga untuk kemuliaan Tuhan. Akhirnya, melalui talenta, bakat, kharisma, kemampuan, dan kecakapan-kecakapan yang kita miliki, kita dapat menjadi GARAM bagi dunia bukan MICIN bagi dunia. Kamu adalah GARAM dunia bukan MICIN dunia. Karena itu, melalui kecakapan-kecakapanmu jadilah GARAM bagi sesama bukan MICIN bagi sesama. Berkat Tuhan menyertai kita semua.

Oleh: Redaksi Betang Raya Post
Rilis: Pius Susilo