Before and After Bulan Suci Ramadan

Iklan Semua Halaman

Betang Raya Post - Suluh Perjuangan Rakyat Kalimantan

Before and After Bulan Suci Ramadan

PONTIANAK, BRP - Berdasarkan hitungan (hisab), Insya Allah bulan puasa 1439 H akan jatuh pada Kamis, 17 Mei 2018. Namun, lebih afdolnya, kita harus menunggu ketetapan sidang isbat dari pemerintah. Pastinya bulan Ramadhan jatuh di bulan Mei ini. Kalau ada bilang jatuh di Juni, wah tak beres tu. Kabar akan datangnya bulan suci disambut suka cita seluruh umat Islam. Nah, apakah Anda yang mengaku Muslim, merasa gembira akan datangnya Ramadan? Kalau Anda merasa gembira, dan tak sabaran ingin puasa, tandanya Anda orang beriman. Orang yang masih percaya Allah Maha Pecipta dan Rasulullah sebagai utusan Allah. Sebaliknya, bila ada merasa uring-uringan, merasa terbelenggu, tandanya Anda sedang berkawan dengan setan.

Saya mencoba menampilkan sebuah ungkapan yang sering dikutip para dai saat menjelang puasa. Ada mengatakan, ungkapan ini hadis nabi. Namun, setelah saya telusuri, bukan hadis. Hanya diambil dari Kitab Durrotun Nashihin, karya Utsman bin Hasan al-Khubawi.

مَنْ فَرِحَ بِدُخُولِ رَمَضَانَ حَرَّمَ اللهُ جَسَدَهُ عَلىَ النِّيْرَانِ

“Siapa bergembira dengan masuknya bulan Ramadhan, Allah akan mengharamkan jasadnya masuk neraka.”

Waktu saya kecil sering mendengar ungkapan itu. Siapa bergembira dengan masuknya bulan Ramadan, Allah mengharamkan jasadnya masuk neraka. Walaupun itu bukan hadis, namun sering dijadikan motivasi bagi umat Islam yang akan menjalankan puasa. Ya, sebagai motivasi untuk kita agar bersiap-siap menyambut bulan suci tersebut. Pastinya puasa selama sebulan penuh wajib hukumnya. Masuk dalam rukun Islam. Setiap Muslim yang sudah aqil baligh, wajib menjalankan puasa. Kecuali ada halangan yang dibenarkan.

Terus terang, hampir rata-rata umat Islam sangat antusias menyambut Ramadan. Mereka mempersiapkan jiwa dan raga. Padahal, bulan itu dilarang makan dan minum bila siang hari. Bagi yang tak biasa, pasti merasa sangat menderita. Lemah, lesu, tak berdaya. Anehnya, banyak orang Islam justru senang. Mungkin di sini letaknya kesucian Ramadan.

Walau demikian, tak semua senang. Pasti ada merasa resah dan gelisah bila Ramadan tiba. Tentunya mereka yang memang tak terbiasa berpuasa. Atau berpuasa di hadapan orang saja. Di belakang malah makan dan minum.

“Apakah Anda sedang puasa?” Dia menjawab, “Ya, saya puasa.” Padahal, sebenarnya tidak berpuasa. Apakah ada tipekal orang macam ini. Oh, ada. Bahkan, bahkan banyak pula. Kalau tak percaya, cari saja di warung kopi atau rumah makan yang tertutup tirai. Biasanya mereka banyak berada di dalam.

Kemudian, mereka yang kalau ditanya, apakah sedang puasa? Lalu, dijawab dengan banyak alasan. “Waduh, tadi kesiangan sahurnya. Maaf, sedang sakit mag.” Selalu ada alasan untuk menjawab pertanyaan, apakah anda sedang puasa. Orang Islam seperti inilah yang di dalam Alquran dalam surat  Albaqarah ayat 183 bukan termasuk orang beriman.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan kepada kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa (Q.S Albaqarah:183).

Di dalam ayat tersebut, Allah Swt hanya menyeru orang beriman saja untuk berpuasa. Ketika saat ada seruan agar wajib berpuasa, ia malah menyambutnya gembira ria, tandanya ia orang beriman. Sebaliknya, ketika malah mencari alasan untuk tidak berpuasa, tandanya bukan orang beriman. Orang seperti ini sulit menjadi orang takwa. Sebab, ending dari orang berpuasa, menjadi orang yang takut pada larangan Allah dan senang menjalankan perintah Allah (takwa).

Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah Saw bersabda,

أتاكم رمضان شهر مبارك. فرض الله عز وجل عليكم صيامه، تفتح فيه أبواب السماء، وتغلق فيه أبواب الجحيم، وتغلّ فيه مردة الشياطين، لله فيه ليلة خير من ألف شهر، من حرم خيرها فقد حرم

“Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Allah wajibkan kepada kalian puasa di bulan ini. Di bulan ini, akan dibukakan pintu-pintu langit, dan ditutup pintu-pintu neraka, serta setan-setan nakal akan dibelenggu. Demi Allah, di bulan ini terdapat satu malam yang lebih baik dari pada 1000 bulan. Siapa yang terhalangi untuk mendulang banyak pahala di malam itu, berarti dia terhalangi mendapatkan kebaikan. (HR. Ahmad, Nasai 2106, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Hadis ini memang sangat terkenal. Saking berkahnya bulan Ramadan, pintu neraka ditutup, setan dibelenggu. Kemudian, ada satu malam lebih baik dari 1000 bulan yang kemudian dikenal Lailatulqadar. Di bulan inilah umat Islam berlomba-lomba mencari pahala. Akumulasi dari puasa, menjadi orang bertakwa. Orang yang suci hatinya (fitri). Ukurannya sederhana. Before puasa kelakuan suka menyakiti orang, suka fitnah, suka bual, ngerumpi, malas ibadah, pelit, tidak toleran, malas kerja. After puasa, menjadi orang suka ibadah, sangat menjaga omongan dari perkataan kotor, suka memaafkan, toleran, rajin bekerja, suka sedekah, dan selalu menebar pesan positif. Bila terjadi perubahan positif signifikan dari before ke after, tanda puasanya diterima Allah Swt. Begitu juga bila sebaliknya. Sila dinilai sendiri deh.

Saat berpuasa memang dianjurkan untuk mencari pahala sebanyak-banyaknya.  Cuma, saat mencari pahala mohon diniatkan yang tulus. Semata-mata karena Allah, bukan karena niat yang lain. Kunci utamanya adalah rido Allah. Ketika Allah sudah meridoi apa yang kita lakukan, Insya Allah ganjarannya surge. Bila Allah tidak rido, wah berat urusannya.  Soal niat tulus atau tidaknya, hanya diri sendiri dan Allah yang tahu.

Selamat menyambut puasa Ramadan 1439 H.

By Rosadi Jamani