Renungan Harian Bersama Sekda Sanggau Leysandri

Iklan Semua Halaman

Betang Raya Post - Suluh Perjuangan Rakyat Kalimantan

Renungan Harian Bersama Sekda Sanggau Leysandri

Melepaskan Diri dari Jerat Kekayaan yang Membuat Kita Sulit Memasuki Kerajaan Allah,
(Mrk 10:17-27).

SANGGAU, BRP - Saudara-saudari yang terkasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus!!!*
Pemuda kaya dalam narasi Injil Yesus Kristus versi Markus hari ini menganggap bahwa hidup yang kekal cukup diperoleh dengan berbuat baik. Sedangkan Yesus menekankan kalau sikap minimalis semacam itu belum sempurna. Ia mesti juga melepaskan ikatan egoismenya yang membuat pemuda itu terseret ke dalam pusaran kemewahan kekayaan, bukan pada pelukan kasih Allah.

Yesus menguak kesadarannya bahwa untuk mengikuti Dia, ia harus menyingkirkan halangannya yang terlalu terikat dengan harta benda dan uang. Perbuatan baik tidak cukup akan membuat seseorang memperoleh hidup kekal, tetapi dengan menjadi serupa dengan Allah. Yesus tidak menyangkal kemungkinan bahwa semua orang mendapat porsi yang sama untuk bisa diselamatkan.

Akan tetapi, Dia mengatakan bahwa hal itu sulit sekali bagi mereka yang tetap memeluk kekayaanya erat-erat.

Pesimisme Yesus ini terungkap dalam sebuah bentuk analogi tentang _"lubang jarum"_ (ayat 25). _"Lubang jarum"_ yang dimaksudkan di sini adalah sebuah gerbang kecil yang hanya dapat dimasuki oleh seekor unta. Selanjutnya, Yesus tidak berbicara mengenai apa yang dianggap mungkin oleh manusia, tetapi apa yang tampaknya mustahil (bdk. ayat 27). Bagi manusia, mustahil seekor unta melewati lubang jarum (jahit).

Saudara-saudari yang terkasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus!!!

Keterikatan pada kekayaan dan kemuliaan diri kadangkala mengikat pribadi kita, sehingga dengan sadar, kita mengabaikan dimensi spiritual dan relasi intim kita dengan Allah sebagai dasar pijakan untuk mencicipi "kenikmatan" kebahagiaan kekal. Oleh karena itu, mari kita lebih banyak membuka hati untuk membiarkan Allah memberdayakan kita; memberi diri dan waktu bagi hal-hal yang bersifat rohani.

Kita juga harus mampu melepaskan hal-hal yang mengikat diri kita yang membuat kita tergantung dan tidak bebas mencari Allah. Misalnya: merokok, minuman keras, perjudian, sex, iri hati, korupsi, sombong, dan sebagainya; sebab jika kita tidak mampu melepaskan pengaruh itu, maka tubuh dan jiwa kita dikuasainya dan kita sulit menerima hal-hal rohani. Yesus tidak mengajarkan kita untuk menjadi miskin demi kehidupan kekal.

Namun Dia mengajarkan apa yang menjadi prioritas kita, yakni Allah. Kita hanyalah pengelola atas setiap harta kekayaan yang bersumber dari Tuhan, bukan pemilik absolut sehingga kita jangan terlalu erat menggenggamnya. Kiranya kita dapat bijaksana menggunakan harta yang dimiliki sehingga tidak menghalangi kita untuk fokus dan terus mengikuti Tuhan.

Tuhan memberkati dan melindungi kita, serta memberikan kita damai sejahtera.

Sekda Sanggau, Leysandri