Upah Mengikuti Yesus: Renungan Harian Heron

Iklan Semua Halaman

Betang Raya Post - Suluh Perjuangan Rakyat Kalimantan

Upah Mengikuti Yesus: Renungan Harian Heron

SANGGAU, BRP - Saudara-saudari yang terkasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus!!!
Petrus, mewakili para murid, meminta kepastian Yesus untuk memberi *UPAH* kepada mereka sebagai balas jasa atas pengorbanan diri mereka selama ini. Jawaban Yesus memancarkan sebuah pengharapan bagi para murid bahwa mereka akan memasuki hidup kekal; sebagai _"penghargaan"_ atas konsistensi tugas mereka. Pokok-pokok yang disebutkan di sini, seperti _“seratus kali lipat”_ (ayat 30), secara harafiah mengacu kepada hal-hal seperti _"banyak tempat tinggal"_ yang akan dibukakan bagi hamba-hamba Allah. Atau pokok-pokok ini secara kiasan dapat dianggap sebagai sebuah bentuk deskripsi atas berkat rohani yang dicurahkan Allah atas orang-orang yang mengikuti Dia dengan pengorbanan.

Kemudian yang dimaksud dengan _“zaman yang akan datang“_ (ayat 30) ialah keadaan abadi yang akan datang bersama kedatangan Mesias yang kedua kali dan rangkaian peristiwa terkait dengan kedatangan tersebut, seperti _"Hari Tuhan"_, _"Kerajaan Seribu Tahun"_, rangkaian penghakiman dengan bencana besar dan penghakiman terakhir.
*Saudara-saudari yang terkasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus!!!

Kita, seperti Petrus dan para murid juga kadangkala kecewa manakala merasa Tuhan tidak mengakomodir keinginan kita. Padahal kita sudah berdoa maksimal, baik secara pribadi maupun kolektif, memberi derma dengan tanpa terpaksa, membantu orang sakit dan miskin; bahkan buku absen atau kehadiran kita tidak pernah ternodai oleh huruf alpa saat kita menghadiri berbagai kegiatan sosial karitatif dan kegiatan kategorial menggereja. Nama kita juga selalu tertulis rapi di setiap kepengerusan organisasi Gereja di paroki. Intinya, kita sudah merasa sebagai pengikut Kristus yang sejati dan militan. Namun segalanya seolah-olah tidak dihargai oleh Allah. Buktinya, hidup kita tetap berada pada garis stagnan. Ekonomi keluarga kian sulit, hutang menumpuk, anak-anak sulit diatur, kesehatan semakin menurun, pekerjaan dan kedudukan tidak pernah _"naik kelas"_. Situasi _"suram"_ ini membuat kita menuntut keadilan Allah. Kita menuduh Allah tidak adil, kurang perhatian dan diskriminatif atau pilih kasih. Namun apakah Allah benar-benar _"tega"_ berbuat demikian? Apabila kita berpikir demikian, maka kita salah.

Tuhan Allah tidak pernah menginginkan umat-Nya menderita. Penderitaan terjadi karena sikap bebas manusia. Kita kerap melakukan segala hal seolah-olah melayani Allah, padahal untuk mendemonstrasikan kemuliaan diri, biar kita tampak lebih hebat daripada orang lain. Di sinilah letak kekeliruan kita. Tentu, kalau kita berbuat demikian, maka Allah tidak akan memberikan *UPAH* kepada kita.

Sadar akan kekeliruan ini, maka marilah kita mengubah pola pikir dan cara pelayanan kita supaya semakin rohani dan benar-benar hanya demi kemuliaan Tuhan. Dengan demikian, Yesus juga berkata kepada kita: _"Sesungguhnya setiap orang yang karena Aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, ibunya atau bapanya, anak-anaknya atau ladangnya, orang itu sekarang pada masa ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan ladang, sekalipun disertai berbagai penganiayaan, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal"_ (ayat 29-30).

Tuhan memberkati dan melindungi kita, serta memberikan kita damai sejahtera.