Renungan Harian Bersama Bung Heron

Iklan Semua Halaman

Betang Raya Post - Suluh Perjuangan Rakyat Kalimantan

Renungan Harian Bersama Bung Heron

"Tuhan, Jadikan Kami Selalu Rendah Hati dan Peka untuk Mengenal Segala Maksud Baik dari Orang lain"

SANGGAU, BRP - Refleksi spiritual kita hari ini bertolak dari catatan Markus 11:27-33, menyangkut pokok-pokok persoalan seputar sumber kuasa Yesus. Markus mengintroduksi narasi Injil dengan mendeskripsikan kedatangan Yesus di Yerusalem. Ketika Yesus berjalan di halaman Bait Allah, datanglah imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat dan tua-tua. Tampaknya kehadiran Yesus memantik inspirasi mereka untuk secara kreatif melemparkan sebuah pertanyaan. Apakah muatan pertanyaan itu menjebak atau benar-benar karena ketidaktahuan mereka? Pertanyaan mereka seputar sumber otoritas Yesus saat Ia _"menyucikan"_ Bait Allah. Atau atas dasar kuasa apa Yesus melakukan penyucian tersebut?, (bdk. Yoh 2:18). Padahal berdasarkan regulasi Taurat,  Bait Allah hanya dapat dibersihkan oleh Sanhedrin, seorang nabi, atau oleh Mesias.

Berhadapan dengan pertanyaan ini, Yesus mengambil sikap yang sungguh luar biasa bijaksana. Ia tidak serta-merta menjawab pertanyaan para _“profesor”_ Taurat itu. Yesus justeru meresponnya dengan sebuah pertanyaan dilematis yang membuat para pemuka agama ini menelan buah simalakama. Yesus cuma menjawab dengan balik bertanya mengenai asal baptisan yang dilakukan oleh Yohanes Pembaptis. _“Baptisan Yohanes Pembaptis itu, dari surga atau dari manusia?”_. Ini sebuah pertanyaan sulit yang jawabannya bisa menentukan reputasi para pemuka agama ini di mata masyarakat. Apabila baptisan yang dilakukan oleh Yohanes Pembaptis itu bersumber dari Tuhan, maka seharusnya mereka selaku pemimpin rohani yang pertama-tama mesti percaya kepada Yohanes Pembaptis.

Tetapi, apabila mereka menyatakan bahwa baptisan Yohanes Pembaptis itu berasal dari manusia, maka ini berarti mereka merendahkan Yohanes Pembaptis dan secara tidak langsung menuduh dia sebagai seorang penipu. Pandangan ini bisa memprovokasi kemarahan orang yang hadir saat itu terhadap mereka. Pertanyaan Yesus ini sungguh mencoreng arang di muka mereka sendiri. Karenanya hanya satu kalimat jawaban yang aman menurut mereka, yakni: *"Pura-pura tidak tahu"*. Sungguh, sebuah jawaban yang memalukan untuk orang sekelas ahli Taurat.

Dalam realitas hidup harian, kita acapkali mengalami peristiwa mengecewakan seperti yang Tuhan Yesus alami. Kita berhadapan dengan sosok-sosok manusia kritis yang senang bertanya hanya karena ingin menjebak kita. Mereka mau mengukur kebijakan kita. Jawaban yang kita tawarkan bukan sebagai informasi penting yang membantu mereka untuk memenuhi takaran ilmu pengetahuan mereka. Tetapi jawaban kita hanya sebagai referensi mekanisme mereka bagi perendahan diri kita.

Berhadapan dengan fakta semacam itu, kita tidak boleh menjawab dengan emosi atau kemarahan. Tuhan Yesus hari ini mengajarkan kita bagaimana berhadapan dengan pribadi yang gemar melontarkan pertanyaan jebakan ini. Yesus adalah model kita dalam mengambil sebuah kebijakan untuk menyikapi pertanyaan semacam ini.

Mari kita seperti Tuhan Yesus yang selalu rendah hati, sabar dan bijaksana dalam menyikapi aneka permasalahan hidup, khususnya permasalahan hidup yang terwujud dalam pertanyaan-pertanyaan misterius yang justeru melahirkan konflik. Hendaknya kita juga mampu menahan diri untuk tidak gampang menjerumus orang lain dengan pertanyaan yang membuat mereka jatuh ke dalam kubangan dosa.

Bertanyalah karena kita tidak tahu dan ingin memperoleh pengetahuan dari orang lain, bukan karena kita ingin tahu ketidakmampuan mereka sehingga mereka kita anggap tidak tahu apa-apa.

"Tuhan, jadikan kami selalu rendah hati dan peka untuk mengenal segala maksud baik dari orang lain",.

Tuhan memberkati dan melindungi kita, serta memberikan kita damai sejahtera.