Paolus Hadi Hadiri RITUAL ADAT BANTAN

Iklan Semua Halaman

Betang Raya Post - Suluh Perjuangan Rakyat Kalimantan

Paolus Hadi Hadiri RITUAL ADAT BANTAN


Dusun Baharu, Desa Suka Gerundi, Parindu, Sanggau, 30 Juni 2018
Dokumenter: Rona

Rombongan Bupati Sanggau disambut dengan ritual adat serta diiringi oleh tarian daerah

Bupati Sanggau Paolus Hadi, S.IP, M.Si  bersama Ketua TP-PKK Kabupaten Sanggau Ibu Arita Apoliba menghadiri Ritual Adat Bantan yang merupakan upacara adat pada Masyarakat Adat Dayak Hibun yang bertujuan untuk memberikan makan pada tanah dan buah yang berada di tembawang/ hutan tanaman buah-buahan. Ritual yang sama dilaksanakan oleh Masyarakat Dusun Baharu terakhir pada tahun 2013 yang lalu.
Ritual Adat Bantan dilakukan di Tembawang Mongun yang merupakan lokasi rumah panjang pada masa lalu. Ada beberapa bagian dalam Ritual Adat Bantan antara lain:
1. Pomang Monto,
2. Pomang Mosok
3. Belanting
4. Mawing
Pomang Monto (Pomang Mentah), pomang dilakukan pada tahap awal dimana semua bahan yang disiapkan masih mentah (hidup dan belum dimaska), seperti babi, anjing dan ayam. Perangkat adat pomang terdiri atas : topuong silong, sumpak sugi, lali, munte (jenis bambu) untuk mpaho/pelataran jamuan pomang dibuat dari munte atau Bambu dimana bagian mudanya ke tanah.
Pomang monto semacam pembukaan dan kata-katanya berupa pemberitahuan kepada Dato Penompo agar 7 bersaudara yang tinggal di Mambang Nkawan agar istirahat dan tidur saja  jangan kemana-mana, jangan berladang atau berburu karena setelah bahan pomang masak, maka mereka diminta datang.
7 bersaudara tersebut adalah: Ntondu Tusok, Penompo Dato, Buhing Babai, Nkayao Nkadouh, Sinok Tonuong, Monuk Buhuong dan Hiyang Nsangi.
Pomang Mosok (Pomang Masak), pomang yang dilakukan setelah semua bahan berupa babi, anjing dan ayam yang digunakan untuk Pomang Monto tadi dipotong dan dimasak, maka dilakukan pomang mosok. Dalam pomang ini maka dipanggil agar 7 bersaudara tadi turun ke bumi.
Belanting, merupakan upacara menghanyutkan segala macam hama yang biasanya memakan padi dan tanaman buah-buahan di tembawang seperti tikus, burung pipit dan ulat termasuk segala macam sampar atau penyakit manusia. Hal ini divisualisasikan dengan menempatkan segala macam buah-buahan tembawang, dan hama dalam sebuah lanting/rakit bambu. Dalam lanting tersebut juga dimuat pontok laki-laki yang dibuat dari ranting kayu lali dan pontok perempuan yang terbuat dari ranting kayu paoh. Pontok-pontok ini merupakan visualisasi dari seluruh warga kampung.
Dengan melantingkan/menghanyutkan segala visualisasi tersebut, maka tanaman terhindar dari hama dan masyarakat di jauhkan dari berbagai macam penyakit.

Mawing: merupakan sebutan hantu yang dipanggil secara khusus oleh tukang pomang agar dating dalam ritual bantan.  Setelah mawing datang makan, maka setelah kenyang mereka harus pulang dan tidak boleh kembali menggangu manusia.
Setelah 4 rangkaian tersebut dilaksanakan, maka tukang pomang akan melakukan Mpokan poyo tono, buoh layoh, tembawang keloko (Ngumpan tanah, buah-buahan hutan dan twmbawang). Dengan visualisasi meletakkan makanan/nasi dan sedikit daging jamuan pada 7 lobang tanah yang berada di pohon durian.
Tiga orang pomang
1. G. Yut (pun) pomang utama
2. Onger (opik) pembantu pomang
3. Rena (dayok) ngaut mindu
Rena sebagai pomang perempuan yang bertugas mengaut mindu/menarik jiwa warga kampung, Sehingga pantang bantan selama 4 hari dibebankan dan menjadi tanggungjawabnya. Pantang setelah bantan seperti dilarang mengambil  atau makan pakis dan rebung, dilarang melayukan tanaman, dilarang menebas atau menebang pohon serta dilarang memukul tanah.
Salam: Tantang njok hosuong mohoyuh njok gohondek, owing njok ngituong motuh njok ntilek….Sigi Oma’.
Pepatah adat: motuoh kudouk ndis napouk, pikan ndis muhuh (dimana bumi di pijak, disitu langit dijunjung)
Bupati Sanggau sangat bangga dengan masyarakat Khususnya Baharu yang masih ingat dengan tradisi2 seperti ini, beliau juga mengajak masyarakat guna memperjuangkan hak2 hutan adat berdasarkan perdan nomor 1 2017.
Deputi MADN Pronvinsi Kalimantan Barat ( khususnya Sanggau ) untuk tetap mempetahankan adat dan budaya ( orang Dayak) sehingga bisa dilestarikan.
Hadir juga dlm acara tersebut tokoh masyarakat, DAD Parindu, Kapolsek Parindu yg diwakili oleh Wakapolsek dan anggota, anggota DPRD Sanggau ibu Ropina Camat Parindu serta Tamu Undangan.