Pangsuma Pahlawan Kemerdekaan Asal Meliau Sanggau

Iklan Semua Halaman

Betang Raya Post - Suluh Perjuangan Rakyat Kalimantan

Pangsuma Pahlawan Kemerdekaan Asal Meliau Sanggau


Oleh: Firmus 
Sumber: Yohanes Supriyadi 

MELIAU - PANG SUMA, pahlawan Orang Dayak, Pahlawan Kemerdekaan Indonesia.

Pang Suma, nama aslinya Bendera, anak Dulung. Ia tinggal di Dusun Nek Bindang, Baru Lombak, Meliau. Pada tahun 1943, Pang Dandan, atau dikenal dengan Orang Kaya Mandi, Ia seorang Temenggung mendirikan Angkatan Perang Madjang Desa (APMD), Ia diangkat sebagai Pemimpin Tertinggi APMD atas ide Raden Iting, seorang ahli waris Kerajaan Meliau, cicit Panembahan Inak Bapusat, Raja Bangkule Rajakng. 

Pendirian APMD menyikapi penundukan Pontianak, dimana pada tahun 1942, Jepang menyerbu Pontianak dan mendirikan markas di kota itu. 

Mengawali gerakan APMD, Pang Suma membunuh Kusaki, pimpinan perusahaan kayu Jepang di Nitinan, kampung Sekucing Labai. Beberapa hari kemudian, Soet Soegisang, pimpinan perusahaan kayu Jepang di Niciran, Pulau Jambu, Tayan. 

Pembunuhan 2 perwira Jepang itu, membuat Pimpinan Angkatan Laut Jepang yang berpusat di Makasar mengirim Kaisu Nagatani untuk menumpas perlawanan APMD. Di Tayan, Jepang mengangkat Miagi sebagai Bunken, dan Amat Dogom Siregar sebagai Guncho di Meliau. 

Kaisu Nagatani dan pasukannya berangkat ke Meliau, dan menjadikan rumah Kiung Tjiu Siong sebagai markas. Ditemani Mantri Mamboe, menantu Amat Dogom Siregar dan Yep, seorang Guncho (Polisi), tentara Jepang menyeberangi sungai Embuan menuju Kampung Kunyil, markas besar APMD. Namun tiba di Kampung Kunyil, Temenggung Mandi tidak ditemukan. Ia dan pasukannya sudah ke hutan. Tentara Jepang menjadikan gedung bekas kantor perusahaaan kayu, KKK sebagai markas. 

Pada malam hari,  Pang Suma menyerang markas itu, dan membunuh para perwira tentara Jepang seperti Kaisu Nagatani, Nakamura, Yamamani, dan Yamamoto berikut 30 tentaranya.

Kekalahan Kaisu Nagatani dan pasukannya membuat pimpinan markas tentara Jepang di Pontianak marah. Tentara Jepang kemudian menangkap Mantri Mamboe, Amat Dogom Siregar dan para tokoh di Tayan dan Meliau dan memenjarakan mereka di bekas gudang penyimpanan garam di Tayan. 

Pimpinan tentara Jepang kemudian mencari kelemahan Pang Suma, dan merekrut seorang seperguruan Pang Suma ketika belajar ilmu kesaktian. 

Pada  24 Juni 1945, Pang Suma dan pasukannya memasuki kota Meliau dan menguasai kota itu. Pada 14 Juli 1945, 300 tentara Jepang menyerang kota Meliau. Pada peperangan 6 hari itu, Pang Suma tertembak di paha kirinya yang merupakan sumber kelemahannya. 

Ia tewas dibawah jembatan, sebelah dermaga Meliau. Peperangan terus berlanjut, dan tentara Jepang menangkap Temenggung Mandi dan membunuhnya. Pada bulan Oktober 1945, Panglima Burung,  Panglima Naga, dan 300 pasukan APMD menyerang Pontianak untuk berburu tentara Jepang. Namun mereka kecewa, tentara Jepang sudah ditarik dari seluruh wilayah Indonesia.