SEBUAH UNGKAPAN CINTA DALAM BUDAYA YANG TIDAK BIASA ‘’SANDUNG”

Iklan Semua Halaman

Betang Raya Post - Suluh Perjuangan Rakyat Kalimantan

SEBUAH UNGKAPAN CINTA DALAM BUDAYA YANG TIDAK BIASA ‘’SANDUNG”



“Tanah air adalah dimana tidak ada kekejaman antara orang dengan orang. Kalau adat atau kebiasaan suatu nasion kejam, kukira lebih baik jangan punya tanah air saja.”

― Y.B. Mangunwijaya, Burung-Burung Manyar. Kutipan indah milik Y.B. Mangunwijaya ini ,  sangat cocok dengan kisah yang melatar belakangi Sandung Dayak Kebahan di Desa Lintang Tambuk, Kecamatan Kayan Hulu,  Kabupaten Sintang,  Provinsi Kalimantan Barat.


Setelah sekian lamanya benda koleksi museum Kapuas Raya yang merupakan warisan budaya suku Dayak pedalaman Kalimantan Barat ini, perlu untuk dilihat, di pelajari karena nilai warisan budaya Dayak yang tergali di dalamnya sungguh sarat makna kehidupan, dan nilai-nilai karakter budaya bangsa Indonesia.

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sintang, Bidang Kebudayaan melaksanakan riset dan seminar dari bulan Agustus sampai dengan bulan Oktober  2020, untuk mengkaji keberadaan Sandung Dayak Kebahan. Ibu Susana Raguniaty, SE, M.Si. bersama rombongan telah melakukan penelitian terhadap benda koleksi museum Kapuas Raya, dan telah  diseminarkan bersama nara sumber Bapak Abang Noa seorang budayawan Dayak Kebahan Desa Lintang Tambuk, Akademisi Bapak Sofyan, S.Sos, M.Si. selaku dosen Universitas Kapuas Sintang. Riset kajian benda koleksi museum Kapuas Raya ini di ditulis, dikaji dan diseminarkan oleh Ibu Rufina Sekunda, S.Pd Duta Rumah Belajar Kemendikbud untuk Kalimantan Barat, Noppy Riscky, SE pemuda Dayak Kebahan. Ibu Rufina menyatakan bahwa Sandung ini merupakan wujud cinta kasih dalam balutan nilai budaya Dayak yang sangat sarat makna, ritual, adat, petuah yang wajib untuk di gali dan dilestarikan menyesuaikan nilai moral, agama dan Undang-undang yang berlaku saat ini. Sebagai wanita Dayak modern, beliau menyatakan bahwa keberadaan nilai benda adat dan budaya Dayak di tanah Kalimantan Barat ini sudah merupakan kewajiban bagi kita semua untuk sama-sama menggali, menjaga dan melestarikanya. 

Koleksi benda museum cagar budaya Sandung Dayak Kebahan Desa Lintang Tambuk merupakan salah satu warisan budaya Dayak dari banyak tradisi adat yang masih tertinggal. Sandung sebuah bentuk bangunan yang terbuat dari kayu, menyerupai rumah kecil beratap melengkung dengan motif ukiran burung kenyalang (enggang) lambang penguasa alam atas (surga). Sandung merupakan tempat penyimpanan abu tulang belulang jenasah yang telah dibakar, disimpan dalam tempayan, botol dan diletakan pada sandung ( Katalog Koleksi Museum Provinsi Kalimantan Barat, 2007:2). Dalam proses ritual tradisi pelaksanaanya ada banyak sekali prosesi dan tahapan yang harus di laksanakan dan tentu saja memakan biaya bahkan nyawa yang luar biasa nilainya. 

Oleh karena itu kisah sejarah budaya tradisi pemakaman Sandung Dayak Kebahan ini memiliki nilai historis, materill, moral yang sangat tinggi. Hal ini tergambar dari hasil seminar dan diskusi terhadap kajian dimana pemerintah terkait Bapak Camat Kayan Hulu Yelmanus, komitmen bersama perangkat desa,  masyarakat, serta Bidang Kebudayaan Disdikbud Sintang, untuk merawat,menjaga, dan mengusulkan Kompleks Sandung yang tidak jauh dari rumah betang desa Lintang Tambuk, untuk di ajukan menjadi desa Wisata budaya Dayak. 

Setiap daerah memiliki cerita sejarah, objek pemajuan kebudayaan, dan cagar budaya. Kekayaan budaya lokal tersebut perlu digali kembali dan dilestarikan hingga dapat diwariskan ke generasi selanjutnya yang selaras dengan tujuan kajian riset ini yaitu; mengkaji sebuah kebudayaan melalui cagar budaya berarti mendefinisikan kembali kebudayaan itu sendiri sebagai sebuah proses pemaknaan hidup yang dapat mempersiapkan kita mengahadapi  krisis dan akses globalisasi yang sangat pesat.