Sang Terang Tiba

Iklan Semua Halaman

Betang Raya Post - Suluh Perjuangan Rakyat Kalimantan

Sang Terang Tiba

Renungan: Minggu Adven I
Bacaan: Yes 63: 16b-17; 64:1,3b-8; 1 Korban 1:3-9; Mrk 13:33-37

AYO! MARI KITA BERJAGA BERSAMA
(Oleh: P. Ignatius F. Thomas, Pr)

SANGGAU, BRP - Bapak, ibu, saudara/i terkasih...Masa Adven telah tiba kembali. Kita melihat di samping altar telah terpajang lingkaran, karangan, atau corona Adven. Ada 4 buah lilin yang terpasang pada lingkaran, karangan, atau corona Adven tersebut.

Keempat buah lilin itu hendak menandakan bahwa masa Adven yang akan kita mulai dan yang akan kita jalani ini, berlangsung selama 4 pekan. Angka 4 dalam jumlah bilangan lilin tersebut, dalam tafsir teologi merupakan simbol aritmatis dan memiliki makna 4 Minggu atau 4 pekan masa Adven berlangsung. Adapun lilin yang dinyalakan dimulai dari lilin yang paling bawah.

Dengan menyalakan lilin-lilin yang posisinya semakin ke atas, hendak menandakan bahwa kedatangan Yesus Kristus, Sang Juruslamat, dan yang adalah Sang Terang itu sendiri semakin dekat pula. Puncaknya adalah dalam perayaan Natal.

Sementara itu, warna liturgi selama masa Adven adalah warna ungu. Warna ungu sendiri menandakan antara lain sebuah sikap pertobatan, sehingga pada masa Adven ini menjadi suatu kesempatan yang istimewa bagi kita, untuk melakukan suatu pertobatan, suatu pertobatan yang berangkat atau dimulai dari diri kita sendiri selaku umat beriman.

Akan tetapi pada Minggu Adven III nanti, warna liturgi agak sedikit berbeda, yakni warna merah jambu, yang memiliki makna perayaan suka cita, atau dalam bahasa Latinnya "Gaudete".

Kata "Adven" sendiri bapak, ibu, saudara/i terkasih berasal dari bahasa Latin "Adventus" yang berarti kedatangan. Oleh karena itu pada setiap masa Adven, kita semua diingatkan akan kedatangan Tuhan. Dan dalam setiap perayaan Ekaristi atau Misa, sesudah konsekrasi, kita biasanya menyerukan rahasia iman kita yang terdalam, kita mengungkapkannya dengan kata-kata, "wafat Kristus kita maklumkan, kebangkitanNya kita muliakan, kedatanganNya kita rindukan".

Setelah konsekrasi dan dalam anamnese kita mengungkapkan kata-kata tersebut. Kata-kata tersebut bukanlah suatu ungkapan kata-kata yang biasa, melainkan suatu ungkapan rahasia iman kita yang terdalam, dan sekaligus juga sebagai suatu ungkapan kerinduan kita akan Tuhan Yesus yang selalu datang dan selalu hadir dalam hidup kita.

Dalam merindukan, dalam menantikan kedatangan Tuhan dan kehadiranNya dalam hidup kita, dalam hati kita, khususnya pada masa Adven, masa penantian, dan sekaligus masa yang penuh rahmat ini, kita sebagai umat beriman diingatkan, kita sebagai umat beriman diajak, untuk memiliki sikap hidup "berjaga-jaga". Dalam perikop Injil di atas kita diingatkan dengan seruan "hati-hatilah dan berjaga-jagalah".

Kata "hati-hatilah dan berjaga-jagalah" ini bapak, ibu, saudara/i terkasih, dalam analisis semantik, pararel dengan kata "waspadalah". Kita semua diajak untuk senantiasa berjaga-jaga. Lantas, pertanyaan biblisnya adalah berjaga-jaga terhadap apa? Dan berjaga-jaga yang macam apa? Ini merupakan pertanyaan mendasar secara biblis terhadap semantik "berjaga-jaga" tersebut.

Dari semantik "berjaga-jaga" ini, kita sebenarnya diingatkan oleh Tuhan Yesus, agar tidak terlena, agar tidak terninabobokkan oleh hal-hal yang bersifat fana, oleh hal-hal yang duniawi belaka. Kita berjaga-jaga terhadap berbagai kemungkinan, yang bisa saja menimpa dan menghampiri hidup kita. Jangan sampai hari Tuhan datang secara tiba-tiba atas diri kita.

Jangan sampai ketika Ia mendatangi kita dan meminta pertanggungjawaban atas hidup kita, kita tidak siap oleh karena iman kita sedang tertidur! Karena itu kita semua diingatkan, kita semua diajak untuk senantiasa berjaga-jaga. Berjaga-jaga yang macam apa? Jelas jawabannya adalah kita senantiasa berjaga-jaga dengan cara terus-menerus menata, menempa, dan mengelola hidup rohani kita.

Maka konkretnya, jangan pernah untuk meninggalkan hidup doa, jangan pernah mengabaikan Misa/Ekaristi. Kemudian bacalah selalu Kitab Suci. Biasakanlah pula dalam hidup kita untuk tidak menjadi manusia yang pelit, melainkan jadilah orang yang murah hati dan yang selalu melaksanakan perbuatan amal kasih.

Bapak, ibu, saudara/i terkasih...kita semua diajak dengan seruan "berjaga-jagalah". Oleh karena itu, jagalah hidup kita masing-masing. Jagalah hatimu, jagalah pikiranmu, jagalah sikapmu, jagalah cara bicaramu, dan jagalah semuanya yang ada dalam dirimu, yang telah Tuhan berikan kepadamu. Olahlah, tatalah, dan kelolalah dengan baik, agar semakin berkenan di hadapan Allah dan semakin menjadi berkat bagi sesama.

Moga-moga sabda Tuhan dan juga masa Adven yang kita jalani ini, masa penantian, masa pertobatan, dan masa yang penuh pengharapan, serta penuh rahmat ini, membantu kita dalam mengolah, menata, dan mengelola hidup rohani kita, kepribadian kita, keluarga kita, dan komunitas kita, sehingga dengan demikian semuanya itu sungguh-sungguh berkenan bagi Allah dan juga bagi sesama kita. Selamat menjalani masa Adven. Tuhan Yesus memberkati kita semua.

Redaksi Betang Raya Post
Sanggau