LBH Mandau Borneo Keadilan Kecam Penganiayaan Sengketa Lahan

Iklan Semua Halaman

Betang Raya Post - Suluh Perjuangan Rakyat Kalimantan

LBH Mandau Borneo Keadilan Kecam Penganiayaan Sengketa Lahan



KUBURAYA, BRP - Ketua LBH Mandau Borneo Keadilan, Jaleni Christo SH kecam penganiayaan yang telah dilakukan Pria Oknum Kelompok Tani Bina Kasih asal kecamatan Tayan, Kabupaten sanggau terhadap seorang Perempuan warga desa punggur kecil terkait Lahan kebun sawit milik korban yang terletak di Jl. Parit Rintis Lama Rt/Rw. 061/018 Desa Punggur Kecil. Sabtu, 3/2/2018 kemarin.

Akibat ulah pelaku, korban mengalami luka robek di bagian kening atas sebesar kurang lebih 1 CM.

Berawal dari pengakuan pelaku, lahan tersebut merupakan lahan yang telah digarapnya sejak tahun 2000 hingga saat ini.

Berbeda dengan korban, yang mengaku juga telah menggarap lahan sejak tahun 2008 dan sudah membayar pajak sejak tahun 2009 hingga saat ini dengan bukti tanaman sawit yang sudah berumur kurang lebih 6 tahun sejak pembibitan.

Pembayaran pajak bukanlah merupakan bukti kepemilikan tetapi merupakan bukti pengakuan dari penggarap bahwa pihaknya yang telah mengelola lahan sejak pajak didaftarkan dan pembayaran pajak sebagai kontribusi penggarap terhadap pembangunan daerah.

Bukan hanya itu, sebelumnya pihak korban sudah pernah melaporkan anggota kelompok tani Bina Kasih ke POLRESTA Pontianak Kota dengan kasus pengrusakan tanaman sawit sebanyak kurang lebih 1.300 pohon yang baru ditanam dan 28 pohon yang sudah berumur 4 tahun dan 2 tahun yang dilakukan secara bersama-sama pada bulan juli 2016.

Hingga saat ini, belum ada penyelesaian terhadap kasus ini, karena pengrusakan dianggap merupakan bagian dari sengketa kepemilikan lahan oleh pihak POLRESTA.

Pihak korban sangat berharap agar pihak kepolisian dapat membantu melindungi dan menjaga keamanan yang ada di lokasi perkebunan sawit milik korban dan keluarganya.

Sebelumnya, Kelompok Tani Bina Kasih yang diwakili oleh Y tidak pernah bertemu bahkan membicarakan kepemilikan lahan dengan pihak korban sama sekali, namun Y dan rekan-rekannya dari Kelompok Tani Bina Kasih tiba-tiba datang kelokasi dan merusak ribuan tanaman yang ada pada tanggal 12 Juni 2016 dan mengusir orang yang bekerja di lokasi tersebut.

Setelah pengrusakan tersebut, anggota Kelompok Tani Bina Kasih secara bergiliran  setiap hari minggu datang ke lokasi dan melakukan tindakan intimidasi terhadap korban, bahkan anak korban pernah dipukul bagian kepalanya beberapa kali, melecehkan korban dengan ucapan-ucapan yang tidak senonoh, menghancurkan hasil pekerjaan korban, mengadu domba korban dengan warga sekitar dan sempat mendorong korban sampai kakinya terkilir.

" Tindakan penganiayaan ini pun telah dilaporkan kepihak POLSEK Sui. Kakap, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat ". Ujar Jaleni Christo, SH ketua LBH Mandau Borneo Keadilan.

Informasi dilapangan, Untuk sengketa pertanahan sendiri, daerah Desa Punggur Kecil merupakan daerah yang sangat rawan, hal ini sudah menjadi rahasia umum.

Warga termasuk kepala Dusun Desa Punggur Kecil menyatakan keheranannya karena sertifikat dapat diterbitkan dilahan yang masih berupa hutan lebat dan  bahkan diterbitkan berkali-kali dilokasi yang sama.

Pemilik sertifikat atas tanah hutan juga tidak pernah menggarap atau mengerjakan lahannya hingga waktu yang sangat lama bahkan ada yang sampai lebih dari 30 tahun dan tanah-tanah tersebut sudah digarap oleh warga dengan Surat Keterangan Tanah atau yang kini disebut Surat Pernyataan Tanah dan deregister di kantor Desa Punggur Kecil.

Yang akhirnya jelas menjadi sengketa antara warga yang sudah menggarap selama puluhan tahun dengan pemegang sertifikat yang baru, setelah kepemilikan sertifikat berganti nama.

Hal ini bertentangan dengan Undang-Undang No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria tentang pemilik tanah harus menjaga kesuburan tanah dan memanfaatkan tanah agar memiliki nilai ekonomis untuk membantu warga yang memiliki ekonomi lemah.

" LBH akan buat Perlindungan Hukum jika hal ini tidak ditindaklanjuti oleh Polresta. Kita akan naikan ke atas, apa mungkin mereka mau dan harus ada terjadi pembunuhan dulu baru ditangani ?. Kalau mau seperti itu, silahkan biarkan ". Kecamnya.

Hingga berita ini diterbitkan, penyelesaian kasus tersebut didampingi Tim LBH Mandau Borneo Keadilan.


Laporan : Listian Danu/AA
Editor     : Robiantinus Hermanto