Karolin dan Tekad Membangun Beranda Depan Bangsa

Iklan Semua Halaman

Betang Raya Post - Suluh Perjuangan Rakyat Kalimantan

Karolin dan Tekad Membangun Beranda Depan Bangsa

TAK bisa ditampik, selama ini kawasan perbatasan diidentikkan dengan ketertinggalan dan keterisolasian. Paradigma pembangunan yang menggunakan alogaritma perkotaan membuat pembangunan hanya terpusat pada ibukota dan daerah sekitarnya. Secara politispun daerah perbatasan tidak memiliki nilai jual, dengan jumlah penduduk yang sedikit, membangun perbatasan tidak akan menaikkan elektabiltas apapun. Kendala infrastruktur dan regulasi antar negara menjadi penghambat kawasan perbatasan berkembang menjadi kawasan yang memiliki nilai ekonomi strategis. Ringkasnya, perbatasan adalah halaman belakang yang terabaikan

Kawasan perbatasan sebenarnya memiliki potensi yang luar biasa. Berbatasan langsung dengan negara tetangga, dapat dikembangkan menjadi perdagangan lintas batas negara. Belum lagi konektivitas darat antara Malaysia-Indonesia di beberapa titik pada Provinsi Kalimantan Barat membuat mobilitas barang dan orang menjadi lebih mudah dan murah dibandingkan dengan jalur udara.

Barulah ketika era Pemerintahan Presiden Jokowi-JK, kawasan ini dilirik untuk dikembangkan menjadi pusat ekonomi baru. Melalui nawacita “membangun Indonesia dari pinggiran” Presiden yang terkenal dengan blusukannya ini bertekad membangun kawasan perbatasan.

Melihat peluang yang ada, Gubernur Kalimantan Barat Drs. Cornelis, MH mencoba melobi pemerintah pusat untuk meyakinkan mereka bahwa pengembangan kawasan perbatasan harus dimulai dari Kalimantan Barat. Gayung bersambut, bermodal kedekatannya dengan presiden Jokowi, membuat Kalimantan Barat dijadikan sumber utama pilot project pengembangan kawasan perbatasan. Grand design pun dibuat dan triliyunan dana dikucurkan baik melalui APBN dan APBD. Sebagai langkah awal, dipilihlah 3 titik perbatasan yaitu Entikong di Kab. Sanggau, Aruk di Kab. Sambas dan Badau di Kab. Kapuas Hulu. Tak tanggung-tanggung, pengembangan dilakukan menyeluruh dan terpadu dengan target ketiga daerah tersebut digodok menjadi kota baru perbatasan dengan fasilitas yang lengkap di segala bidang diantaranya perdagangan, infrastruktur pemerintahan, dan dukungan energy (listrik dan komunikasi).

Sinergitas antara pemerintah pusat dan daerah di era Pemerintahan Cornelis begitu kompak dalam pembangunan perbatasan. Masing-masing pihak saling mengisi, sehingga pembangunan dapat berjalan dengan efektif, akseleratif dan tidak tumpeng tindih. Cornelis tahu betul ruang-ruang mana yang harus dikerjakan oleh pemerintah daerah dan dibagian mana ia harus mendukung pemerintah pusat.

Hasilnya, pembangunan yang masif dapat kita lihat di tiga kawasan perbatasan tersebut. Kini kita tidak bisa ditampik, kawasan perbatasan Kalbar jauh lebih baik dari sebelumnya. Tiga pintu gerbang yang dikembangkan berstandarkan internasional tidak hanya menjadi kebanggan masyarakat Kalbar, namun juga bangsa Indonesia.

Namun pembangunan masih jauh dari kata usai, saat ini pembangunan yang telah diselesaikan baru dalam taraf infastruktur dasar pelayanan lintas batas negara saja, seperti bangunan Pos Lintas Batas Negara (PLBN), jaringan listrik dan komunikasi, serta membuka keterisolasian perbatasan menuju ibukota Kabupaten terdekat.

Mengetahui hal tersebut, membuat Karolin Margret Natasa terpanggil untuk melanjutkan dan menyelesaikan visi pembangunan perbatasan. Calon Gubernur Kalimantan Barat dengan nomor urut 2 ini menyadari betul bahwa apa yang selama ini dibangun tidak akan memiliki dampak apa-apa kepada masyarakat jika tidak disertai dengan pembangunan infrastruktur di bidang ekonomi dan pelayanan dasar.
Bersama wakilnya Suryadman Gidot, Karolin telah menyusun Masterplan pengembangan kawasan perbatasan Kalbar kedepan. Yang menjadi perhatian utama Karolin adalah bagaimana mengembangkan perekonomian disana menjadi kawasan ekspor-impor sehingga menjadi daya ungkit untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dengan demikian segala potensi ekonomi Kalbar dapat mendunia dan kuota perdagangan meningkat.

Selain itu, Karolin juga telah melakukan kajian untuk mengembangkan titik-titik perbatasan Kalbar lainnya agar dapat berkembang seperti 3 daerah sebelumnya.

“Saya tidak ingin menjual mimpi dan obral janji akan bangun ini itu, yang justru susah untuk diwujudkan. Pembangunan perbatasan adalah hal yang berkesinambungan, saat ini sudah berjalan setengah, tinggal kita lanjutkan hingga sempurna. Saya tidak ingin cuma karena hasrat berkuasa, pembangunan yang telah dicanangkan malah mangkrak ditengah jalan, dan Kalbar tidak jadi lepas landas. Tugas terpenting kita adalah mempercepat pembangunan titik perbatasan lainnya, sehingga kawasan perbatasan tidak lagi menjadi halaman belakang negara, namun beranda depan bangsa yang aman, nyaman dan ramah bagi siapa saja. Tentu saja hal ini baru bisa terwujud dengan meneruskan visi pembangunan perbatasan yang selama ini ada, sinergitas antara pemerintah pusat dan daerah”, ujar Karolin.

Kalau ada yang sudah tau apa yang harus dilakukan dan mengerti permasalahan, masih mau pilih orang yang cuma bisa janji-janji yang belum tentu bisa ditepati??



Foto diambil saat Karolin berdiskusi dengan Mendagri Tjahjo Kumolo, Diejen Imigrasi dan Deputi I BNPP saat peresmian PLBN Entikong oleh Bapak Presiden Jokowi.