Jaga dan Rawat: Temawai Buah Endemic Kalimantan Sartifikat Hidup Masyarakat Dayak

Iklan Semua Halaman

Betang Raya Post - Suluh Perjuangan Rakyat Kalimantan

Jaga dan Rawat: Temawai Buah Endemic Kalimantan Sartifikat Hidup Masyarakat Dayak



SINTANG - "Orang bilang tanah kita tanah surga. Tongkat kayu dan batu jadi tanaman".


Potongan lagu lawas tersebut sepertinya cocok dan tepat untuk menggambarkan Indonesia khususnya Kalimantan Barat.


Demikian dikemukakan seorang guru di Sintang, Rufina Sekunda, Selasa 27 Juli 2021.


Ia bercerita, di saat semua resah dengan peningkatan angka penularan Covid-19 yang tidak mengalami penurunan, Tuhan memberi  kebahagian dengan panen buah endemic Kalimantan Barat yang hampir serempak berbuah di 14 Kabupaten Kalimantan Barat.



Orang Dayak memiliki istilah yang berbeda-beda menyebutnya, Sub suku rumpun Dayak Iban mengatakannya Temawai, Temawang, Tembawang yang bisa di definisikan sebagai Kawasan tumbuhnya pepohonan buah-buahan khas Kalimantan seperti; Durian, Kemantan, buah Mawang, Buah mentawak, Buah Pekawai,  Buah Rambai, Buah Cempedak, Buah Sibau, Buah Rambutan. 


"Buah-buah ini tumbuh dengan subur dan akan bisa di panen dalam kurun waktu bersamaan,"cerita si peramah ini.


Dari Temawai, Temawang, Tembawang menjadi penanda bahwa jauh sebelum mengenal kemajuan dunia Pendidikan dalam bidang bercocok tanam, nenek moyang sudah memprediksi bahwa anak-cucu keturunanya harus memiliki komplek tanaman buah-buahan yang tidak memerlukan perawatan khusus karena alam yang subur bisa merawatnya.


"Kita hanya perlu melestarikan dan menjaga Temawai, agar bisa kita panen dan sebagai pengenang kita akan kemurahan Tuhan yang diberikan kepada kita dengan hasil panen buah yang berlimpah, bisa kita kosumsi sendiri dan juga mendatangkan nilai ekonomis,"ujar Rufina Sekunda.


Musim Durian jatuh, akan ada tradisi menunggu buah durian jatuh nginang rian, bahasa Dayak Desa yang mediami sekitar Bukit Kelam dimana Buah durian menjadi ikon bukit ini, karena sepanjang kaki Bukit Kelam penuh ditumbuhi pohon durian. Pemandangan pondok-pondok berata terpal dan meja display durian akan di temui di sepanjang jalan, singgah dan rasakan sensasi makan durian di pondoknya.


"Kita harus bersyukur karena memiliki nenek moyang yang sudah menanamnya, dan tugas kita tinggal menjaganya, agar kekayaan alam dan tradisi ini tidak punah, ketahui bahwa Tembawang adalah Sartifikat Hidup Masyarakat Dayak,"pesan Rufina Sekunda.